Pertumbuhan IBS-IMK Maluku Di Atas Nasional

AMBON, SwaraMaritim – Badan Pusat Statistik Provinsi Maluku mencatat pertumbuhan Industri Manufaktur Besar sSedang (IBS) dan Industri Mikro Kecil (IMK) triwulan II tahun 2018 sebesar 8,87 persen tumbuh di atas pertumbuhan IMK Nasional.
“Produksi Industri Mikro Kecil (IMK) Provinsi Maluku  periode April-Juni 2018 naik 8,78 persen dibanding periode Januari-Maret 2018,”  kata Kepala BPS Provinsi Maluku, Dumangar Hutauruk di Ambon, Rabu (1/8).

Dia menjelaskan, secara kumulatif sampai dengan bulan Juni 2018, produksi IMK Provinsi Maluku meningkat 8,78 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan positif ini  ditunjang oleh pertumbuhan  produksi di industri barang dari kayu, percetakan dan reproduksi media rekaman, barang galian bukan logam, bukan mesin dan peralatan serta pengolahan lainnya,” tandasnya.

Menurutnya, selama 2018 beberapa IMK yang mengalami pertumbuhan  negatif adalah  industri makanan, minuman, tekstil, pakaian jadi, bahan kimia dan barang dar bahan kimia, alat angkut lainnya, furnitur, serta reparasi dan pemasangan mesin dan peralatan.
Industri besar dan sedang di Provinsi Maluku mengalami  pertumbuhan positif pada triwulan II 2018 mengalami kenaikan dibanding triwulan I.

Dumangar mengatakan, sektor industri nasional mengalami pertumbuhan positif secara Q-to-Q maupun Y-on-Y dibanding triwulan sebelumnya baik pada skala mikro kecil maupun skala besar sedang. IBS dan IBK nasional tumbuh positif.
“Sektor industri manufaktur mempunyai sumbangan cukup signifikan dalam menggerakan perekonomian dengan kemampuan menciptakan  lapangan pekerjaan dan meningkatkan  nilai tambah dari input/bahan dasar,” katanya.

Berdasarkan jumlah tenaga kerja, industri manufaktur dikelompokan menjadi industri mikro (1-4 orang tenaga kerja), industri kecil (5-19 orang tenaga kerja),  industri sedang (20-99 orang tenaga kerja),  dan industri besar (100 orang atau lebih).

Dia mengatakan, berdasarkan sensus ekonomi tahun 2016 jumlah usaha atau industri manufaktur  mencapai 24,9 persen dari total usaha/perusahaan non pertanian di Maluku. Dari jumlah tersebut 99,8 persennya adalah  kelompok industri mikro dan kecil, adapun tenaga kerja yang diserap oleh usaha/perusahaan IMK kurang lebih 20 persen  dari total tenaga kerja  di sektor non pertanian di Provinsi Maluku.

Dumangar menambahkan, mulai triwulan II Tahun 2018, BPS secara rutin telah merilis  data pertumbuhan  produksi industri  manufaktur  mikro dan kecil triwulan. Data ini diperoleh dari hasil  survei industri mikro dan kecil triwulan, yang dilaksanakan mulai tahun 2011 dan tersebar diseluruh provinsi di Indonesia.(SwM03)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *