Pelupessy: Masih Ada Yang Tolak Imunisasi Campak Dan Rubella

 

AMBON, SwaraMaritim – Program Dinas Kesehatan Kota Ambon mengacu pada program nasional, serta visi dan misi Walikota dan Wakil Walikota Ambon, yaitu yang berhubungan dengan kesehatan ibu dan anak, remaja, lansia. Demikian dikatakan Plt Kadis Kesehatan Kota Ambon, drg Wendy Pelupessy. “Selain berhubungan dengan kesehatan ibu dan anak, remaja, lansia, ada tiga program nasional yang harus dilaksanakan, yaitu pencegahan stunting,  eliminasi TBC, dan peningkatan imunisasi campak dan rubella,” jelasnya.

Selama ini menurut Kadis, tiga program ini sudah dilaksanakan di setiap puskesmas, antara lain bagaimana sosialisasi tentang stunting, karena stunting tidak bisa melihat disaat sudah terjadi, harus dicegah dan pencegahannya dari remaja. “Jadi remaja dipersiapkan sampai kemudian menjadi seorang ibu pada masa kehamilan. Hal-hal seperti ini harus dijaga agar tidak stanting atau kekerdilan pada saat bayi itu dilahirkan,” ungkapnya.

Program nasional lainnya yaitu eliminasi TBC. Kadis mengatakan, tenaga kesehatan di puskesmas-puskesmas harus turun langsung dimasyarakat untuk sosialisasi TBC dan untuk menemukan penderita, yang kemudian akan dilanjutkanndengan pengobatan. “Teman-teman di Dinas Kesehatan Kota Ambon harus mengejar bola dilapangan. Mereka harus sosialisasi tentang gejala-gejala dan tanda- tanda penderita TBC. Misalnya kalau ada gejala-gejala batuk lebih dari dua minggu. Setelah itu mengajak mereka berobat. Pengobatannya gratis di puskesmas,” ujarnya.

Selain program pencegahan stunting dan TBC, program imunisasi campak dan rubella juga masuk dalam program nasional yang dilaksanakan saat ini. “Saat ini kita galang adalah imunisasi campak dan rubella,” katanya.
Dirinya mengakui di Kota Ambon, untuk program imunisasi campak dan rubella masih ada kendala. Hal ini dikarenakan ada beberapa orang yang menolak imunisasi campak dan rubella. “Di kota Ambon masih terdapat kendala, karena ada beberapa dari komunitas Muslim yang masih menolak. Tetapi dengan adanya surat edaran dari MUI, ada yang sudah mulai menerima, tapi ada juga yang masih menolak.
Kemarin ada satu sekolah di Air Salobar yang kepala sekolahnya langsung menulis surat untuk siswa-siswanya tidak mau di imunisasi. Ini yang menjadi masalah, 190 siswa kalau misalnya kita mendapat dibawah 95 persen, berarti nanti kemungkinan kejadian luar biasa (KLB) masih bisa terjadi. Suatu daerah bisa dikatakan bebas campak dan rubella, jika imunisasi mencapai 90-95persen,” terangnya.

Untung memberikan pengertian pentingnya imunisasi campak dan rubella, Kadis dan tim kesehatan Kota Ambon juga akan mendatangi lagi MUI dan beberapa anggota DPR dari fraksi-fraksi atau partai-partai yang berbasis Islam untuk melihat masalah ini.
“Kami bersyukur ada orang tua yang setelah diberi penjelasan dan memahami pentingnya imunisasi campak dan rubella, kemarin Sabtu, ibu-ibu tersebut dmencanangkana anaknya untuk imunisasi. Ada sekitar 40 orang,” bebernya.

Pelupessy mengatakan, semua anak usia 9 sampai 15 tahun harus diberikan kekebalan dengan cara imunisasi. Karena bisa saja suatu disaat konsidi tubuh lemah, virus itu bisa ada. “Sekarang saja terjadi banyak kasus di Jawa dan beberapa tempat di Maluku. Karena dengan transportasi yang begitu mudah orang berpindah tempat dari tempat yang satu ke tempat yang lain dengan begitu mudah, maka penyakit-penyakit seperti ini bisa berpindah dengan kondisi seperti itu.
Jadi walau pun belum ada kasus tersebut di Ambon, kita tetap harus imunisasi, masa kita mau tunggu sampai ada kasus dulu. Bisa saja bayi itu dia lahir sehat, entah lima bulan tiba-tiba buta, kemudian dia tuli, itu sudah ada virus dari campak dan rubella,” tandasnya. (SwM01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *