16% Sampah Adalah Plastik

AMBON, SwaraMaritim – Hari Lingkungan Hidup Sedunia diperingati setiap tanggal 5 Juni, guna meningkatkan kesadaran global akan kebutuhan untuk mengambil tindakan lingkungan yang positif bagi perlindungan alam dan planet bumi.

Tahun ini Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI mengambil tema “Kendalikan Sampah Plastik”. Sebagai perwujudan komitmen bersama seluruh pihak dalam upaya mengatasi bahaya sampah plastik di berbagai belahan dunia, juga di Indonesia.

Dalam sambutan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang dibacakan Staff Ahli Bidang Kemasyarakatan dan SDM, Halim Datis menyebutkan, pengangkatan tema tersebut terkait dengan kritisnya kondisi sampah plastik di dunia. Menurutnya, tema ini diambil sebagai bentuk penyampaian pesan moral bahwa plastik sudah bukan lagi menjadi permasalahan nasional, melainkan sudah menjadi permasalahan internasional.

Dia mengatakan, plastik termasuk sampah tidak terurai. Ini akan berakhir di laut dan merusak biota di dalamnya. Sebagian besar, sampah plastik tersebut berasal dari daratan.

“Sampah plastik ini merupakan sampah yang tidak bisa terurai, lebih dari 40 tahun di lingkungan. Datang dari darat, berakhir di laut,” ungkapnya pada acara peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia Tingkat Provinsi Maluku, di Meeting Room Hotel Marina Ambon, Rabu (03/10).

“Ternyata data dari kajian ITB, 16% dari total timbunan merupakan komposisi sampah plastik yang ada di kota-kota besar seperti Jakarta, sekitar 17% (Riset barsama Indonesia Business Link dan Laboratorium Teknik Penyerahan dan Lingkunagn UI 2016). Komposisi sampah plastik merupakan trend yang meningkat dalam waktu 10 tahun terakhir, sumber utama sampah plastik berasal dari kemasan makanan dan minuman,” sambungnya.

Sementara itu Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Vera Tomasoa merincikan berdasarkan data UNEP bahwa setiap tahunnya ada 8 juta kilogram sampah plastik di lautan sekitar Cina, Indonesia, Filipina dan Thailand. Sedangkan berdasarkan rilis dari KLHK menyebutkan di Indonesia setiap harinya terkumpul 10,7 juta kilogram sampah, 16% diantaranya merupakan sampah plastik.

Sedangkan untuk skala Provinsi Maluku, Vera melaporkan bahwa sampah di Maluku didominasi oleh sampah sisa makanan. Sampah plastik merupakan terbesar kedua setelahnya.

“Khusus Maluku, berdasarkan sistem informasi yang ada adalah sampah sisa makanan sebesar 48,77%, ke dua sampah plastik sebesar 16%. Setelah itu sampah lainya seperti kayu, tekstil, logam, karet, kulit, dan sebagainya,” jelasnya.

Dirinya berharap peringatan hari lingkungan hidup sedunia ini menjadi momen perbaikan diri untuk lebih sadar dan bijak dalam menggunakan plastik. Bahkan ibu-ibu rumah tangga lebih sering mengunakan tas plastik saat pergi ke pasar, oleh karena itu dia menghimbau agar kembali beralih menggunakan tas belanja seperti jaman generasi-generasi sebelumnya.

“Harapan saya semoga ini menjadi momen untuk introspeksi menggunakan plastik menjadi lebih bijak lagi.
Untuk ibu-ibu, ingat kurangi sampah. Kalau ke pasar, pakai tas belanja seperti ibu dan nenek kita dulu. Itu bisa jadi langkah awal kita menekan sampah plastik,” katanya.

Dia menambahkan, bahwa polusi plastik saat ini telah menjadi ancaman, terutama pada ekosistem laut. Namun kesadaran masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik masih rendah, bahkan kebiasaan membuang sampah ke tempatnya pun belum membudaya.

“Plastik yang kita buang akan berakhir di lautan, dan membunuh jutaan burung laut dan ratusan ribu mamalia laut setiap tahunnya,” katanya.

“Kesadaran masyarakat tentang pengurangan penggunaan plastik masih rendah. Belum lagi masih rendahnya kesadaran membuang sampah di tempatnya. Intinya semua itu membutuhkan kesadaran dari semua pihak untuk berbenah,” tandasnya. (SwM02).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *