Pengguna Narkoba Di Maluku Termasuk Tertinggi Di Indonesia

AMBON, SwaraMaritim –  Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) RI,
Komjen Pol. Heru Winarko, saat Dialog Publik, Awas. Narkoba Masuk Desa mengakui,  jumlah pengguna narkoba di Maluku termasuk yang tertinggi di Indonesia.

“Maluku termasuk tertinggi 2,3 persen, sehingga menjadi perhatian serius kita bagaimana jumlah pengguna-pengguna ini bisa kita turunkan,”ujarnya.

Menurutnya, secara nasional terjadi penurunan. Pada tahun 2014 yang tadinya 2,14 persen , mengalami penurunan menjadi 1.77 persen di tahun 2017. “Secara Nasional, pada tahun 2014 jumlah pengguna 2,14 persen. Tahun 2017 turun menjadi 1,77 persen. Ini artinya jumlah pengguna turun dibandingkan jumlah penduduk,” ungkapnya.

Saat ini wilayah Indonesia Timur menjadi target penyeludupan narkoba di Indonesia, salah satunya melalui Filipina. Hal ini dikarenakan daerah-daerah yang ada di wilayah timur bercirikan kepulauan, apalagi dengan adanya pelabuhan konvesional di desa-desa perbatasan. terpencil dan terdepan, yang sulit untuk dilakukan pengawasan.

“Setelah sulit melakukan penyelundupan di wilayah barat, mereka kemudian beralih ke wilayah timur yang pada umumya berciri kepulauan,”jelasnya.

Walau demikian, pihaknya akan terus melakukan pengawasan, karena penyeludupan kebanyakan masuk melalui wilayah laut, terutama desa-desa yang memiliki pelabuhan konvesional. Untuk itu, pihaknya sementara ini terus mengelorakan agar desa bisa menjadi basis bersih narkoba. “Untuk itu, kita kumpulkan kepala desa, Babinsa, Kamtibmas, untuk kita kasih masukan bahaya narkoba. Sehingga bisa memprotek masuknya narkoba di wilayah masing-masing,”ucapnya.

Tak hanya itu, dalam pengangkatan jabatan, baik ditingkat kementerian, lembaga, provinsi, kabupaten/kota, harus dilakukan tes urine dan sebagainya, menindaklanjuti inpres nomor 6 tahun 2018.

Dirinya juga mengusulkan, kedepan di Maluku sudah harus ada tempat rehabilitasi pengguna dan pecandu narkoba.

“Kami juga berharap ada tempat rehab sendiri di Maluku, agar  pengguna yang di Maluku bisa langsung direhab, tidak lagi ke Makassar. Tak hanya itu, puskesmas yang ada juga seharusnya menjadi tempat rehabilitasi awal. Sehingga bisa monitoring dan mendata pencandu narkoba yang ada,”tandasnya. (SwM01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *