Akibat Penyerobotan Lahan, Ahli Waris Akan Lakukan Boikot Dan Pembongkaran

MASOHI, SwaraMaritim.com – Setelah melakukan palang terhadap pembangunan rumah dinas guru SD Negeri 1 Titawai dan berencana memboikot aktifitas sekolah, kini giliran ahli waris Lisye Hiariej akan melakukan boikot sekaligus melakukan pembongkaran terhadap sarana air bersih dan juga lampu tenaga surya di negeri Titawai pada pertengahan Juni mendatang.

Hal ini dikatakan Lisye Hiariej kepada media ini Minggu, 26 Mei 2019 melalui telepon selulernya.

“Saya sudah boikot rumah dinas guru SD Negeri 1 Titawai, dan nantinya pertengahan bulan Juni saya akan turun langsung ke Titawai untuk boikot aktifitas pendidikan dan sekaligus membongkar sarana air bersih berupa bak air dan juga lampu tenaga surya yang di bangun di atas tanah milik kami keluarga Hiariej tanpa ada ijin,” tuturnya.

Menurutnya, luas lahan yang di gunakan SD sejak tahun 1956 hingga saat ini mencapai 1.827 meter. Sementara untuk pembangunan sarana air bersih berupa bak dan pemasangan pipa mencapai 1.200 meter dan penerang lampu tenaga surya 7 meter persegi.

“Ini kan namanya upaya penyerobotan hak-hak orang lain yang sengaja di lakukan oleh pemerintah negeri Titawai bersama staf terutama untuk pembangunan sarana air bersih maupun pembangunan lampu tenaga surya. Ini hak kami keluarga Hiariej yang seharusnya pemerintah negeri harus melakukan pendekatan dengan kami, sebelum membangun sesuatu yang menjadi kepentingan umum, kami keluarga menilai kalau pemerintah negeri arogan dan sangat tidak mengindahkan kami keluarga,”tandasnya.

Lisye yang sehari-hari berprofesi sebagai pengacara mengatakan, kalau pembangunan sarana air bersih dan juga lampu tenaga surya oleh Dinas PU Provinsi Maluku tahun anggaran 2016 itu mencapai 1,75 Miliar.

“Yang anehnya pihak pemerintah negeri maupun Dinas PU sangat arogan dan tidak menghargai keluarga Hiariej sebagai pemilik lahan yang sah sejak datuk-datuk, keluhnya,”paparnya..

Sebagai ahli waris dari keluarga Hiariej, dirinya sudah melayangkan somasi kepada pemerintah Negeri Titawai dan juga pihak Dinas PU Provinsi Maluku yang di nilai telah melakukan penyerobotan lahan mereka, namun hingga kini pihak pemerintah negeri dan juga pihak Dinas PU yang berkompeten dalam pembangunan sarana air bersih dan juga lampu tenaga surya sangat tidak menghiraukan surat somasi yang mereka layangkan.

“Bahkan secara pribadi sebagai anak cucu ahli waris, saya juga sudah menyambangi pihak Dinas PU Maluku untuk bicarakan hal ini, namaun tidak ada upaya penyelesaian dari pihak Dinas. Olehnya itu sebagai ahli waris dari keluarga Hiariej, saya dalam pertengahan bulan Juni 2019 akan melakukan pemboikotan sekaligus melakulan pembongkaran terhadap sarana air bersih tersebut dan juga lampu tenaga surya?”tegasnya.

Dia mengatakan telah membentuk tim advokat untuk melakukan proses hukum kepada pemerintah negeri Titawai dan Dinas PU Maluku , terhadap upaya penyerobotan lahan keluarga Hiariej untuk membangun sarana air bersi dan lampu tenaga surya serta Pemda Maluku Tengah dan Dinas pendidikan terhadap lahan sekolah SD negeri 1 Titawai. (SwM04)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *